by

MUI Kelapa Gading: Refleksi Spirit Silaturahmi, Bersinergi, Empati, Dakwah dan Mewujudkan Akhlakul Karimah

Oleh :
H. Dudi Akasyah, SAg, MSi.
MUI Kelapa Gading

Catatan di bawah ini adalah refleksi kita di dalam berdakwah di kota besar, pusat bisnis, dan kondisi masyarakat yang heterogen sebagaimana halnya di Kelapa Gading.

Dalam situasi kompetisi materi yang begitu gencar dimana hal tersebut menggerus silaturahmi, langkanya tegur sapa, sikap tidak peduli, dan saling mementingkan diri sendiri perlu kita sikapi dengan niat yang ikhlas untuk kembali merajut persaudaraan atau silaturahmi di tengah-tengah masyarakat Kelapa Gading.

MUI Kelapa Gading hadir untuk menjembatani permasalahan-permasalahan tersebut dengan prinsip khairun naas anfa’uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Hari Jumat, 3 Safar 1443 H / 10 September 2021. Dilaksanakan pengukuhan Pengurus MUI Kelapa Gading Masa Khidmat 2021-2026.

Hadir dalam acara tersebut para alim ulama, para ustadz, ustadzah, para tokoh dan dari unsur pemerintahan.

Hadir juga Habib Fathi Al-Habsyi dan akademisi Prof. Dr. Adji Suratman yang merupakan pengurus MUI Kelapa Gading.


Jam 14.00 WIB acara Pelantikan dimulai. Sebagai pembawa acara yaitu Ustadz H Armawan Yusuf.


Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dipandu dirigen Ustadzah Herna.


Kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan ayat Suci Al-Quran yang disampaikan Ustadz H Dadi Supriadi.


Pengukuhan Pengurus MUI Kelapa Gading disampaikan Ketua MUI Kota Jakarta Utara, KH Ahmad Ibnu Abidin, didampingi Sekretaris Umum, KH M Ali Fahmi.


Ketua MUI Kelapa Gading terpilih, KH Agus Muslim menyampaikan gambaran tentang proyeksi MUI Kelapa Gading di tengah-tengah masyarakat.

KH Agus Muslim memyampaikan bahwa MUI Kelapa Gading diharapkan senantiasa mampu membimbing masyarakat. Keluh kesah masyarakat dapat dibimbing berdasarkan spiritualitas. Mampu mendinginkan situasi kurang kondusif menjadi masyarakat yang bersinergi.

MUI hadir sebagai penyeimbang, sebagai pendingin agar masyarakat nyaman.

MUI memiliki setidaknya dua tugas, yaitu ;

Pertama, mas-uuliyatud diiniyyah (tanggung-jawab terhadap agama), yakni ketika masyarakat membutuhkan penjelasan tentang syariat, ibadah, persoalan-persoalan muamalah atau sosial yang mengkerucut kepada persoalan agama maka Majelis Ulama dapat memberikan solusi.

MUI mampu menyelesaikan masalah. Jangan sampai MUI menjadi bagian dari masalah yang harus diselesaikan.

MUI memiliki tanggung-jawab penting dalam hal syariat agama.

Kedua, mas-uliyatil wathoniyah (tanggung-jawab terhadap negara). MUI memiliki silaturahmi yang kuat dengan pemerintah, dalam arti tidak bisa dipisahkan dalam konteks ulama dan umara. Memiliki tanggung jawab terhadap kenyamanan dan ketenangan kampung kita. Lebih umunya lagi NKRI.

MUI Kelapa Gading memandang heterogenitas masyarakat sebagai peluang untuk mengenal dan memupuk persaudaraan serta solidaritas.

Paradigma pergerakan di masyarakat mencakup tiga hal, mengembangkan Ukhuwah Tsalatsah, pesatuan yang tiga.


Pertama, Ukhuwah Islamiyah, menjaga kerukunan antar satu aqidah. Faham boleh berbeda, yang satu memakai qunut, yang satu tidak. Biarkan saja yang penting aqidahnya sama.

Kedua, Ukhuwah Basyariyah, hubungan silaturahmi antar sesama manusia, masyarakat luas. MUI Kelapa Gading memiliki hubungan harmonis dengan semua kalangan masyarakat. Apapun latar belakang agama, etnis, profesi, atau status sosial, maka kita perlu senantiasa menjaga hubungan harmonis tersebut.

Perbedaan tidak sepatutnya menjadi biang perpecahan, pada hakikatnya perbedaan merupakan sumber kekuatan.

Ketiga, Ukhuwah Wathoniyah, memupuk keamanan dan kenyamanan anak bangsa. Memadukan kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan sosial. Masyarakat Kelapa Gading perlu mensinergikan tiga kecerdasan ini. Ada orang intelektualnya atau statusnya tinggi namun sosialnya rendah maka hal itu jangan sampai terjadi.

MUI Kelapa Gading dari tahun ke tahun terus menjalin komunikasi dengan mitra kerja, hubungan baik dengan Camat, Danramil, dan Kapolsek, serta seluruh umat Islam dan semua kalangan masyarakat.


Kapolsek Kelapa Gading, AKP Rio Mikael Tobing, menyampaikan sambutan, Kapolsek sangat berterima kasih atas hadirnya MUI di tengah-tengah masyarakat. Terciptanya kenyamanan dan keamanan.

Mungkin dari kita bukan asli masyarakat kelapa gading namun hal itu tidak mengurangi rasa cinta dan kerinduan kita di dalam menjaga keamanan dan kenyamanan dan silaturahmi antar kita sebagai sesama umat manusia di kecamatan Kelapa Gading.

“MUI mampu mengembangkan tali silaturahmi. Kapolsek mendukung penuh program kerja MUI Kelapa Gading dalam melaksanakan tugasnya. 100 persen saya dukung,” kata AKP Rio M Tobing.

Ia juga sangat antusias apabila MUI berkenan mengundangnya dalam acara-acara berikutnya sehingga Kapolsek dan jajarannya dapat senantiasa dekat dengan para Alim Ulama MUI Kelapa Gading.

“Kami mengucapkan selamat atas pengukuhan Anggota MUI Kelapa Gading Masa Khidmat 2021-2026” Demikian sambutan dari Kapolsek.


Danramil 06 Kelapa Gading, Mayor Arm Sidik AY, dalam sambutannya mengucapkan selamat atas pengukuhan Pengurus MUI Kelapa Gading.

Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa MUI mampu memberikan solusi atas berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Aparat hanya bisa mengamankan, sedangkan Ulama bisa menenangkan dan menentramkan. Umat lebih mendengar apa yang disampaikan oleh para alim ulama. Ulama dan umaro tidak bisa dipisahkan.

“Melihat sejarah bagaimana para Ulama berjuang meraih kemerdekaan sehingga kita perlu bersyukur, darinya muncul semangat bela negara, dan semangat berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara,” demikian kata Danramil.


Camat Kelapa Gading, H Darmawan AP, dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara ini disaksikan oleh ratusan hadirin sebab dtayangkan melalui zoom yang disaksikan oleh pemerintah kecamatan, kelurahan dan seluruh elemen masyarakat di Kelapa Gading.

Camat menyampaikan bahwa peranan penting MUI didalam menterjemahkan kebijakan pemerintah di dalam bahasa agama sangatlah penting, di samping tugas utama di dalam menyampaikan fatwa yang senantiasa menjadi solusi di masyarakat.

Camat menyampaikan “MUI merupakan jembatan antar umara, ulama, umat atau masyarakat sehingga terjalin sinergitas dengan seluruh komponen masyarakat”


Ketua Umum MUI Kota Jakarta Utara, KH Ahmad Ibnu Abidin LC. Menyampaikan tausiyah kepada seluruh hadirin. KH Ahmad Ibnu Abidin menyampaikan perlunya merumuskan fiqih kebangsaan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam diutus untuk seluruh umat manusia, ke seluruh bangsa. Bahkan bukan hanya untuk manusia namun untuk seluruh makhluk.

Sabda Rasul Saw bahwa tulang adalah makanan bangsa jin sehingga kita dilarang untuk mengotorinya menunjukan kita perlu menghormati mereka.

KH Ibnu Abidin melanjutkan tausiyahnya bahwa Ulama itu melanjutkan. Sebab Ulama merupakan pewaris para Nabi.

Nabi Muhammad Saw diutus ke seluruh bangsa merupakan keistimewaan sekaligus tantangan tersendiri.

Jika Nabi Adam as diutus hanya untuk satu keluarga itupun ternyata repot dan ada anaknya ada yang bunuh-bunuhan (Kabil dan Habil).

Indonesia merupakan negara luas nan indah. Banyak orang luar yang ingin tinggal di Indonesia. Jadi kita harus bersyukur menjadi bangsa Indonesia, bukan bangga kepada negara lain.

Lihat Eropa, lihat Amerika! Di Eropa, satu bangsa tetapi banyak negara. Ada prancis, Inggris, Italia, Swiss dan sebagainya. Mereka satu bangsa tapi dikawal oleh banyak negara.

Sedangkan Indonesia, mereka berbangsa-bangsa tetapi satu NKRI. Alhamdulillah kita harus bersyukur terhadap nikmat Allah SWT.

Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13. Menyampaikan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa adalah untuk mengenal, saling mengenal (lita’aarofuu).

Rukun Islam kelima yaitu ibadah Haji. Situs Nabi Adam as dan Siti Hawa ra di Padang Arafah selalu dihadiri oleh semua manusia dari seluruh bangsa di bumi. Kemudian Nabi-Nabi seterusnya pun mengunjungi, dan puncaknya pada masa Nabi Ibrahim as.

Di saat menunaikan ibadah haji. Maka datanglah semua manusia dari seluruh bangsa. Tidak ada satu pun bangsa yang tidak hadir.

Itulah pentingnya ta’aruf, saling mengenal antar sesama manusia. Arafah, tempat semua bangsa berkumpul dengan pakaian yang sama dan talbiyah yang sama.

Saling mengenal merupakan suatu keniscayaan. Dari kenal maka muncul saling menghormati, kemudian saling memahami (tafahum).

Di Kecamatan Kelapa Gading, banyak etnis, agamanya berbeda-beda. Di sini semuanya ada.

Bermula dari taaruf, tafahum, kemudian muncul tasamuh yaitu toleransi. Betapa pentingnya saling menghargai sebab jika tidak akan menghancurkan tatanan yang sudah ada. Kata TNI, Indonesia akan hancur jika tidak ada TNI. Kata petani, bangsa ini akan mati jika tidak punya nasi.

Munculnya media online berimbas maraknya berita hoax. Kita sebagai manusia agar tidak mudah dipancing, sebab kita bukan ikan. Kita juga bukan tahu tempe, oleh sebab itu kita tidak bisa digoreng.

Manusia yang ingin haknya terpenuhi harus seimbang dengan pelaksanaan kewajiban. Manusia sibuk menuntut hak, padahal hewan saja tidak meminta hak-hak. Bagaimana jika ayam-ayam juga meminta haknya kepada manusia?” Demikian Tausiyah yang disampaikan oleh KH Ahmad Ibnu Abidin.


Acara ditutup dengan doa yang disampaikan Kepala KUA, Ustadz H Pahlawan Jurangga Daulae, SAg, MPdI. Memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita senantiasa memperoleh ridho-Nya, hidayah, istiqomah, barokah keluarga dan anak keturunan shalih shalihah, amal jariyah bagi orang tua dan husnul khotimah.

——°°°°°——

Ditulis oleh :


H. Dudi Akasyah SAg, MSi.
Ketua Bidang Dakwah
dan Pembinaan Mualaf
MUI Kelapa Gading

Foto: Gus Mardhon
@muikelapagading2021

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed