K.H. Dudi Akasyah, S.Ag., M.Si., adalah putra Desa Wanahayu, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Indonesia. Beliau lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan yang kental dengan tradisi keislaman. Sejak kecil, Ustadz Dudi mendapatkan pendidikan agama dari kedua orang tuanya, KH Ihsan Fauzan & Hj Siti Rukoyah, pengajaran ilmu Al-Qur’an, kitab kuning serta aktif mengikuti berbagai majelis taklim dan belajar ilmu-ilmu keislaman.
Beliau sekolah di SDN Wanahayu lulus 1990, MTs PUI Maja (1993), Madrasah Aliyah PUI Maja (lulus 1996). Sembari pesantren di Cihaur, Maja, Majalengka, Jawa Barat.
Tahun 1996, setelah menyelesaikan pendidikan di Majalengka, beliau melanjutkan pendidikan ke Bandung dan kemudian ke Jakarta. Perjalanan pendidikan dan pengabdian tersebut membentuk dirinya menjadi seorang pendidik, dai, penulis, dan penggerak kegiatan sosial-keagamaan. Hingga kini, beliau menetap dan aktif berkarya di Jakarta.
Di Jakarta, Ustadz Dudi tidak hanya berdakwah, tetapi juga berusaha membangun berbagai lembaga dan kegiatan yang bergerak di bidang pendidikan, Al-Qur’an, sosial, kemanusiaan, penelitian dan pemberdayaan umat. Ia penulis puluhan buku, di samping itu mendirikan beberapa Rumah Al-Qur’an (Kelapa Gy, Cakung dan Tangerang) berkhidmat dalam pembinaan para penghafal Al-Qur’an. Beliau juga pernah dipercaya menjadi Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jakarta Utara serta aktif dalam kegiatan kemasjidan dan dakwah di Jakarta Utara. Di samping itu anggota MUI Provinsi DKI Jakarta, mengajar, dosen, dan ASN Kementerian Agama RI, serta pembimbing manasik haji dan umrah.
Yang membuat perjalanan beliau semakin bermakna adalah perhatian besar terhadap pendidikan Al-Qur’an di dalam keluarga. Anak-anak beliau tumbuh dalam lingkungan tahfidz dan pendidikan Islam. Beberapa di antara mereka kemudian berhasil meraih prestasi dalam bidang Al-Qur’an dan dipercaya mewakili DKI Jakarta dalam berbagai ajang. Bagi beliau, keberhasilan anak bukan sekadar kebanggaan keluarga, tetapi merupakan bagian dari perjuangan melahirkan generasi Qur’ani.
Dari sebuah desa bernama Wanahayu, beliau kemudian menapaki perjalanan panjang hingga Jakarta. Namun, keberhasilan di perantauan tidak membuat beliau melupakan tanah kelahirannya. Justru Wanahayu tetap menjadi bagian penting dari identitas dan perjalanan hidupnya. Beliau terus mengenang kampung halaman, menulis tentang sejarah dan kehidupan Wanahayu, serta berusaha memberikan manfaat bagi masyarakat.
K.H. Dudi Akasyah adalah gambaran seorang putra desa yang membawa nilai-nilai kampung halaman ke tengah kehidupan metropolitan: berangkat dari Wanahayu, berjuang di Jakarta, mendirikan lembaga, mendidik generasi, membina para penghafal Al-Qur’an, dan menanamkan cita-cita agar anak-anaknya menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Gariskilat________




